BI Jaga Stabilitas Makroekonomi Nilai Tukar Rupiah

liputan 6 | 10 March 2018

 Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dan juga konsisten dan berhati-hati merespons dinamika pergerakan nilai tukar rupiah.

Inilah cara yang dilakukan untuk memastikan stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga sehingga keberlangsungan pemulihan ekonomi dapat berlanjut. Gubernur BI Agus Martowardojo menegaskan hal itu, seperti dikutip dari liputan6, Rabu (7/3/2018).

"Respons Bank Indonesia ditempuh untuk mengelola dan menjaga fluktuasi (volatilitas) nilai tukar rupiah agar tetap sejalan dengan kondisifundamental makroekonomi domestik dengan juga memperhatikan dinamika pergerakan mata uang negara lain," ujar Agus.

Ekonomi Indonesia semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global, dinamika nilai tukar rupiah, saat ini merupakan dampak langsung dari kondisi ekonomi global yang terus alami pergeseran kebijakan moneter global saat ini, terutama di Amerika Serikat (AS), Ujarnya.

Pada saat ini, AS tengah memasuki era peningkatan suku bunga dan rezin kebijakan fiskal yang lebih ekspansif. "Dampak dari kebijakan ekonomi AS tersebut berpengaruh terhadap perekonomian di seluruh negara, termasuk Indonesia yang antara lain tercermin pada dinamika pergerakan mata uang negara-negara di dunia," ujarnya

BI meyakini dengan ketahanan perekonomian Indonesia saat ini. Hal ini didukung oleh jalinan koordinasi BI dan pemerintah yang semakin kuat, perekonomian Indonesia mampu hadapi tantangan dari berbagai pergeseran ekonomi global tersebut.

Untuk mengawal terciptanya stabilitas Rupiah, BI akan tetap berada di pasar secara terukur. Sehingga kepastian dan keyakinan masyarakat terhadap perekonomian nasional tetap terjaga dengan baik," kata Agus.

Berbagai indikator yang telah diperbaiki ketahanan ekonomi Indonesia, diantaranya:

1. Inflasi dalam tiga tahun ini terakhir terus menurun dan senantiasa dapat dijaga pada kisaran sasarannya. Inflasi sampai dengan Februari 2018 tetap terkendali sebesar 0,79 persen (ytd) dan 3,18 persen (yoy). Sampai dengan akhir tahun 2018, inflasi diperkirakan akan berada pada kisaran sasaran sebesar 3,5 persen plus minus satu persen.

2. Defisit neraca transaksi berjalan semakin menurun dan berada dalam tingkat yang sehat sebesar 1,7 persen dari PDB pada tahun 2017.

3. Sejalan dengan pemulihan ekonomi domestik yang tengah berlangsung, impor bahan baku diperkirakan terus meningkat sehingga pada Februari 2018, diperkirakan masih terjadi defisit neraca perdagangan, meskipun lebih rendah dibandingkan Januari 2018.

4. Dan neraca perdagangan di Februari 2018 mengalami defisit, Bank Indonesia memperkirakan secara keseluruhan tahun 2018 defisit Neraca Transaksi Berjalan tetap sehat di kisaran 2,1 persen dari PDB, sejalan dengan dinamika pemulihan ekonomi domestik yang tengah berlangsung.

5. Serta kondisi fiskal dalam kondisi yang semakin sehat, didukung oleh kebijakan Pemerintah yang sesuai prinsip kehati-hatian (prudent) dan konsisten, serta reformasi struktural yang tengah berjalan dengan sangat baik untuk meningkatkan daya saing perekonomian saat ini.

6. Persepsi terhadap kinerja ekonomi Indonesia juga cenderung membaik. Ini terlihat dari sovereign credit rating Indonesia yang terus mengalami perbaikan. Selain itu, persepsi risko investor juga membaik, terlihat dari risk premium Currency Default Swap (CDS) untuk tenor 5 tahun yang cenderung membaik.

7. Ketahanan cadangan devisa saat ini tertinggi dari yang pernah dicapai, terlihat dari posisi cadangan devisa Januari 2018 yang mencapai 131,98 miliar dolar AS.

8.Adapun pengaturan yang telah dikeluarkan oleh Bank Indonesia, seperti kewajiban lindung nilai bagi Utang Luar Negeri dan kewajiban penggunaan rupiah, juga telah dapat mengurangi permintaan valas yang berlebihan yang dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian akibat faktor non-fundamental.

9.Serta perbaikan fundamental makroekonomi tersebut didukung oleh pasar valas domestik yang semakin likuid, sebagaimana tercantum terus meningkatnya volume harian transaksi yang saat ini telah mencapai sekitar US$ 6 miliar dan mekanisme pasar yang lebih baik dan semakin efisien.