Rupiah Melemah, BI Naikkan Suku Bunga

LIPUTAN 6 | 12 May 2018

Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan mengambil langkah untuk menciptakan stabilitas perekonomian nasional. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan tantangan global.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menjelaskan, ada beberapa risiko global yang tengah dihadapi Indonesia saat ini yaitu kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS), meningkatnya harga minyak dunia, menguatnya risiko geopolitik dan pembatalan kesepakatan nuklir AS-Iran.

Risiko tersebut mengakibatkan menguatnya dolar AS terhadap seluruh mata uang dunia, termasuk rupiah.

Pada periode 1-9 Mei 2018 (month to date), rupiah telah melemah 1,2 persen, baht Thailand tertekan 1,76 persen, dan lira turki anjlok 5,27 persen.

Sementara sepanjang 2018 (year to date) rupiah melemah 3,67 persen, peso Pilipina turun 4,04 persen, Rupe India tertekan 5,6 persen, real Brazil Real anjlok 7,9 persen, rubel Russian melemah 8,84 persen, dan lira Turki anjlok 11,42 persen.

Melemahnya nilai tukar rupiah tersebut sudah tidak lagi sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini.

Melihat masih besarnya potensi tantangan dari kondisi global yang dapat berpotensi menganggu kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka menengah panjang, BI akan secara tegas dan konsisten mengarahkan dan memprioritaskan kebijakan moneter pada terciptanya stabilitas.

"BI memiliki ruang yang cukup besar untuk menyesuaikan suku bunga kebijakan (7 Days Reverse Repo). Respons kebijakan tersebut akan dijalankan secara konsisten dan pre-emptive untuk memastikan keberlangsungan stabilitas," jelas Agus dikutip dari liputan6.

Agus menambahkan, BI juga akan konsisten mendorong berjalannya mekanisme pasar secara efektif dan efisien, sehingga ketersediaan likuiditas baik di pasar valuta asing dan pasar uang tetap terjaga dengan baik.

Operasi moneter di pasar valuta asing tetap akan dilakukan untuk meminimalkan volatilitas nilai tukar agar keyakinan pelaku ekonomi dapat dipastikan tetap terjaga.

Operasi moneter di pasar uang akan terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas rupiah yang memadai dan terjaganya stabilitas suku bunga di pasar uang, dalam koridor yang sejalan dengan stance kebijakan moneter Bank Indonesia.

Kolaborasi dengan otoritas terkait dan industri keuangan terutama asosiasi, akan semakin diperkuat untuk memperdalam dan mengefisienkan price discovery di pasar valuta asing dan pasar uang, termasuk melalui penambahan variasi instrumen, penguatan infrastruktur pasar keuangan, dan memperkuat kredibilitas suku bunga acuan pasar (market reference rate).

Koordinasi dengan pemerintah akan semakin diperkuat untuk memastikan terjaganya inflasi sesuai sasaran.