Kenaikan Suku Bunga Acuan BI Tidak Bisa Menahan Laju Pelemahan Rupiah

liputan 6 | 18 May 2018

Jakarta - Pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah pada perdagangan hari ini. Dan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) tidak bisa menahan laju pelemahan rupiah.

dikutip dari liputan6, Jumat (18/5/2018), rupiah dibuka di angka 14.053 per dolar AS, menguat tipis jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.058 per dolar AS. Dengan itu, rupiah terus melemah hingga perdagangan siang sempat menyentuh angka 14.148 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 4,23 persen.

Dan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) BI, rupiah dipatok di angka 14.107 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 14.074 per dolar AS.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menjelaskan, rupiah tak mampu meningkat meskipun BI telah menaikkan suku bunga 7-day repo sebesar 25 basis poin menjadi 4,50 persen. Alasannya, masih besarnya ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Kemudian ia melanjutkan, jika the Federal Reserve (the Fed) atau Bank Sentral AS meningkatkan suku bunga empat kali tahun ini, Bank Indonesia mungkin terpaksa mengikutinya guna menjaga nilai tukar Rupiah.

BI memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 16-17 Mei 2018. Penetapan ini sesuai dengan prediksi beberapa ekonom. Dari Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menjelaskan, dewan gubernur memutuskan menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4,50 persen dengan suku bunga Deposit Facility tetap naik menjadi 3,75 persen dan Lending Facility naik menjadi 5,25 persen.

Dari "Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 16-17 Mei memutuskan menaikkan suku bunga 25 basis poin ‎ menjadi sebesar 4,50 persen dan berlaku efektif 18 Mei 2018," kata Agus, kemarin. Ia mengungkapkan, kebijakan yang diambil Bank Indonesia masih sejalan dengan sasaran inflasi sebesar 3,5 plus minus 1 persen pada 2018 serta mengelola ketahanan faktor eksternal‎. "Hal ini untuk memperkuat kebijakan dan meningkatkan stabilitas makroekonomi," tandasnya.

Dan untuk Ke depan, BI tetap fokus dalam menjaga stabilitas perekonomian yang menjadi landasan utama bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.