Andyana Tobing, Country HR Officer Citi Indonesia

0
375

Andyana Tobing meniti karirnya di Citi Indonesia sejak 2016 dengan menjabat sebagai Senior HR Generalist sebagai posisi pertamanya. Kini, di tengah naik-turunnya keadaan bisnis Indonesia kala pandemi COVID-19, Andy, sapaan akrabnya, berhasil naik jabatan menjadi Country HR Officer pada Juni 2021 lalu. Dalam waktu singkat, Andy berhasil menciptakan atmosfer kerja yang membutuhkan profesionalitas “tingkat dewa”. 

Perusahaan perbankan punya tradisi tersendiri dalam menentukan strategi rekrutmen dan promosi terhadap talenta atau sumber daya manusia, alias human resources (HR) mereka. Citi, bank global yang sudah beroperasi di Indonesia sejak 1968 memiliki tradisi yang menjadikan lembaga ini sebagai kawah candradimuka untuk para talentanya.

Citibankers — sebutan untuk karyawan Citi — selalu dipacu agar menjadi karyawan yang tekun, tangkas, dan adaptif. Tiga keterampilan kunci tersebut sangat dibutuhkan dalam industri yang dinamis dan kompetitif.

“Menjadi Citibankers butuh ketekunan dan semangat belajar yang tinggi, dan Citi mendukung ini melalui 3E: Education, Exposure, dan Experience. Citi membuka peluang bagi karyawan untuk berperan dan melibatkan diri dalam berbagai proyek dan program pengembangan (training), baik online atau offline. Hal inilah yang kemudian menjadikan Citibankers sebagai talenta-talenta yang berdaya saing,” ungkap Country HR Officer Citi Indonesia .

Berinvestasi pada Talenta Internal
Selain menciptakan atmosfer yang membutuhkan profesionalitas “tingkat dewa”, Citi juga menunjang kemampuan sumber daya manusianya untuk mendapat tambahan wawasan dan keterampilan. Citi mendorong para karyawan untuk mengembangkan diri di dalam unit yang ada maupun lintas-unit yang relevan dengan kebutuhan mereka dan dinamika internal.

“Keseriusan Citi dalam talent development terlihat dari preferensi untuk mengedepankan talenta internal untuk mengisi berbagai posisi yang tersedia. Sebagai aset utama Citi, Citibankers diberi kebebasan untuk mengembangkan diri di dalam unit yang ada atau fungsi lain yang mereka minati. Ada anggota tim SDM yang pindah ke Card Partnership. Sementara karyawan lainnya pindah ke HR Shared Service dari Citiphone Operations dan menjadi Recruitment Head,” ungkap Andyana (Andy) yang pindah dari tim AML dan bergabung di tim SDM Citi pada Oktober 2020.

Terkait itu, Andy merasakan sendiri keseriusan Citi dalam mendorong pengembangan kompetensi karyawan. “Sejak awal bergabung bersama tim SDM Citi Indonesia sebagai Senior HR Generalist, banyak sekali hal yang saya dapatkan dan sampai saat ini saya merasa Citi masih terus berinvestasi pada saya. Selama 4,5 tahun bersama Citi, saya merasa terus dikembangkan menuju tingkat kompetensi yang lebih tinggi. Awalnya, saya hanya menangani SDM untuk Institutional Client Group (ICG), kemudian dalam kurun waktu di bawah satu tahun, tanggung jawab saya bertambah untuk Global Functions. Hingga akhirnya saya diberi kepercayaan untuk duduk di posisi saya sekarang.”

Citi juga mengidentifikasi talenta sejak dini melalui program yang terkurasi selama dua tahun, misalnya lewat Citi's Consumer Banking Full Time Analyst . Pada tingkat pemula, lulusan program Full Time Analyst memiliki lebih banyak peluang untuk ditempatkan, tergantung passion mereka.

Melalui pengembangan diri berupa pelatihan, eksposur, proyek dan sebagainya, Citi membuka jalur bagi karyawan yang ingin berkembang di level domestik maupun internasional. Menurut Andy, selama 2020, lima karyawan berhasil dipromosikan untuk bekerja di negara lain. Dua di antaranya mendapat penempatan permanen di Hong Kong dan Singapura.

Komitmen untuk Kesetaraan dan Keberagaman
Rasio antara karyawan perempuan dan laki-laki di Citi Indonesia secara konsisten berada di angka 56 berbanding 57 selama lima tahun terakhir. Pada bulan Desember 2020, 56,2% karyawan adalah perempuan, sedangkan rasio perempuan untuk posisi Executive Vice President (EVP) ke atas adalah 39,4% dengan 39% di tingkat direktur, dan 40% di tingkat direktur pelaksana.

Guna menjaga konsistensi tersebut, tahun ini Citi Indonesia mengadopsi arahan “pekerjakan, promosikan, dan pertahankan lebih banyak perempuan” demi menjamin keseimbangan gender. Lini HR yang menjadi bidang Andy ini memiliki tugas untuk memastikan bahwa gender-balanced environment masuk ke dalam key performance indicator (KPI) seluruh tim HR.

Tidak hanya di dalam operasional perusahaan, sejak tahapan rekrutmen, Citi juga mempertimbangkan unsur kesetaraan. Dalam proses rekrutmen tenaga kerja, HR perlu memastikan minimal ada dua kandidat karyawan perempuan serta tim pewawancara yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

Bagi Citi, kesetaraan gender dan keberagaman adalah prasyarat untuk mendorong talenta agar kreatif dan inovatif. Semakin beragam tenaga kerja, maka semakin beragam pula pendapat, sehingga perusahaan berpeluang membuat keputusan terbaik. Tanpa keberagaman, sulit tercipta tantangan, argumen, atau diskusi untuk mendorong adanya solusi terhadap aneka persoalan.

Komitmen keberagaman ini pula yang membuat Citi berinvestasi pada talenta-talenta muda. “Citi menyambut hangat beragam talenta muda yang memiliki segudang potensi untuk menyumbangkan berbagai ide-ide kreatif yang sesuai dengan perkembangan industri terkini. Dengan strategi digitalisasi Citi, tentunya kehadiran karyawan-karyawan muda yang tech-savvy ini menjadi suatu nilai tambah yang tidak tergantikan,” jelas Andy.

Citi juga sangat mendukung kelompok sosial masyarakat yang mengusung terciptanya inklusivitas dan kesempatan yang setara. Citi memprakarsai Citi Indonesia Women's Network (IWN), grup afinitas pertama yang didirikan di Indonesia. Saat ini Citi sedang mempersiapkan jaringan afinitas lain untuk mendorong kolaborasi dan pemahaman yang lebih baik antar-karyawan dari berbagai generasi.

Pandemi, Adaptasi, dan Akselerasi
Munculnya pandemi semakin menyoroti komitmen Citi terhadap aset utamanya, yaitu karyawan. Pada Maret 2020, Citi Regional telah memulai dukungan virtual just-in-time, termasuk pelatihan virtual tentang manajemen tim, motivasi tim, dan manajemen kesejahteraan tim guna memastikan kesiapan karyawan dalam bekerja di masa pandemi.

Keselamatan karyawan menjadi prioritas tertinggi bagi Citi. Hingga saat ini, 75% karyawan Citi Indonesia bekerja dari rumah. Sebanyak 99% karyawan Citi Indonesia juga telah melengkapi vaksinasinya saat ini. Kesejahteraan fisik dan mental karyawan mendapat perhatian lebih dengan adanya fasilitas tracing dan tracking serta sarana isolasi mandiri bagi karyawan dan keluarganya. Tim HR juga menyediakan hotline konsultasi gratis dengan psikolog bagi karyawan yang membutuhkan.

Kesigapan tersebut adalah bukti adaptasi dan akselerasi yang dilakukan oleh Citi, serta telah terasa dampaknya bagi karyawan. Andy mengakui ia sangat terkesan dengan cepatnya proses adaptasi perusahaan saat pandemi, “Sikap Citi yang mengedepankan karyawan di masa-masa sulit ini telah mendorong kolaborasi sesama karyawan. Ketika pandemi datang, saya menyaksikan bagaimana setiap karyawan di Citi mendukung satu sama lain untuk bersama-sama beradaptasi dengan tantangan yang muncul,”

Citibankers mengapresiasi komitmen dan kerja keras perusahaan. Melalui berbagai inisiatif saat pandemi, karyawan menyaksikan bagaimana mereka menjadi prioritas utama bagi perusahaan. Pelibatan karyawan (employee engagement) di Citi Indonesia telah meningkat dari 89% pada 2019 menjadi 93% pada 2020.

Andy: Perempuan di Balik Pencapaian HR Citi Indonesia
Sejak usia sangat muda, Andy adalah seseorang yang tekun dan penuh rasa ingin tahu. Ia menyadari minatnya dalam bidang behavioral science saat ia sedang berusaha mencari jawaban atas sederet pertanyaan tentang perilaku orang-orang di sekitarnya. Sambil membuka-buka buku psikologi di sebuah perpustakaan, Andy bertekad bahwa ia akan berkuliah di jurusan Psikologi.

Perjalanannya menggeluti dunia psikologi setelah itu mengalir seperti yang Andy bayangkan. Setelah lulus kuliah, ia pun mulai bekerja di bidang HR—tepatnya di bagian Recruitment yang memang ia minati sejak di bangku universitas. Saat itu, ia mengawali karirnya di sebuah perusahaan HR Consulting di Jakarta.

Andy kemudian bekerja di Beberapa bank besar nasional dan internasional sebelum akhirnya bergabung dengan Citi Indonesia pada Desember 2016 sebagai Senior HR Generalist. Pada Juni 2021, ia pun dipromosikan menjadi Country HR Officer yang dijabatnya hingga sekarang.

Meski belum lama menjabat sebagai Country HR Officer Citi Indonesia, Andy telah memiliki beberapa pencapaian penting, di antaranya yaitu memperkokoh tim Human Resources yang mengalami banyak perubahan sejak adanya perubahan strategi bisnis Citi dan pandemi COVID-19, serta memfasilitasi talent movement yang telah berhasil membawa 2 orang karyawan ke posisi yang lebih tinggi yang bertanggung jawab mengawasi empat negara-ASEAN.

Pemimpin yang Memahami Kebutuhan Tim
Andy melanjutkan bahwa pencapaian yang ia raih selama ini sesungguhnya tidak dapat disebut pencapaian pribadi, melainkan lebih kepada hasil dari kerja keras tim Human Resource Advisors (HRAs), Talent Acquisition, Compensation & Benefits, Learning & Development, Employee Relations, HR Control & Compliance, HR Professional Services dan HR Services.

Dalam bekerja, Andy cenderung menyesuaikan gaya kepemimpinannya dengan kebutuhan timnya. Andy mendorong para anggota tim untuk menunjukkan keahliannya masing-masing dalam bekerja. Namun, Andy juga mengakui bahwa ia akan bersikap tegas dan memberi arahan yang jelas jika muncul kebutuhan untuk itu.

“Saya senantiasa berusaha untuk fleksibel dan mengamati kebutuhan tim secara keseluruhan. Walaupun begitu, ada beberapa situasi yang mengharuskan saya untuk menjadi pemimpin yang directive atau memberi instruksi yang jelas bagi anggota tim—misalnya saat terjadi krisis atau hal lain yang memerlukan tindakan cepat demi kepentingan bersama. Tapi, saya berusaha untuk tetap lead by example di setiap situasi yang saya hadapi untuk memberikan contoh yang konkret kepada tim saya. Sesimple mempersiapkan diri sebelum meeting dan hadir tepat waktu.”

Menjaga Ritme di Tengah Pandemi
Andy cukup cepat beradaptasi dengan situasi pandemi dan menyatakan bahwa peran Citi sangat besar dalam proses adaptasinya yang mudah itu. Ada banyak manfaat yang ia rasakan dari berbagai pelatihan Citi di awal pandemi, salah satunya adalah cara membangun pola kerja yang tepat untuk bekerja dari rumah.

Meskipun bekerja dari rumah, rutinitas Andy di pagi hari tidak banyak berubah. Pada pukul 6 pagi, waktu di mana biasanya ia sudah siap pergi ke kantor, ia pun sudah siap untuk bekerja di rumah. Ia menyimpan pakaian santainya sejenak untuk digunakan selepas jam kerja, dan memilih untuk tampil dengan busana profesional selayaknya bekerja di kantor. Andy melakukan ini agar dirinya fokus untuk bekerja.

Selaras dengan keseriusannya untuk fokus bekerja meski dari kenyamanan rumahnya sendiri, Andy juga tak lupa untuk menerapkan batasan-batasan tertentu untuk kehidupan pribadinya. Ia memprioritaskan waktu istirahat untuk sejenak menyegarkan diri dengan bercengkerama bersama keluarga atau makan siang, serta menyimpan rapi pekerjaannya selama akhir pekan.

“Batasan adalah kunci bagi kenyamanan bekerja dari rumah. Terkadang garis batas antara kehidupan rumah dan pekerjaan menjadi kabur dengan terbiasanya kita untuk bekerja dari rumah. Penting bagi kita untuk membuat skala prioritas yang sesuai, misalnya jangan bekerja di waktu akhir pekan,” Andy berpendapat.

Pandemi juga tidak membuat Andy melupakan rutinitasnya yang lain yaitu berolahraga. Jika sebelumnya ia berolahraga di pusat kebugaran, kini ia sudah terbiasa berolahraga di rumah. Andy bahkan menambah rutinitasnya dengan hobi baru yang ingin ia pertahankan meski nanti sudah kembali bekerja di kantor, yaitu menguji coba berbagai resep kue di rumah.

“Saya menikmati ritme baru kehidupan saya selama pandemi ini, tapi tidak bisa dipungkiri kalau saya sangat merindukan relasi informal antara saya dan rekan-rekan saya di kantor. Mudah-mudahan kami bisa segera menikmati makan siang bersama lagi,” tutupnya. (*)